Manado, 4 Desember 2025 — Kekerasan seksual, bullying, dan berbagai bentuk ketidaknyamanan sosial masih menjadi tantangan serius yang menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan. Ruang publik—baik fisik maupun digital—kerap gagal memberikan rasa aman bagi warga negara, terutama perempuan dan kelompok rentan, karena masih dibangun di atas cara pandang yang menormalkan kekerasan dan mengabaikan hak-hak dasar manusia.

Padahal, Konstitusi Indonesia secara tegas menjamin bahwa setiap warga negara berhak memperoleh perlindungan, martabat, serta kebebasan dari diskriminasi. Prinsip ini menjadi pengingat bersama bahwa upaya mewujudkan ruang aman merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.
Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP), Gusdurian Manado, Dara Wanua, Swara Parangpuan, Jaring Swara Nusantara, serta Pusat Studi Gender dan Anak IAIN Manado menghadirkan Ruang Dengar sebagai wadah untuk berdialog, mengkaji persoalan kekerasan, serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk menghadirkan lingkungan sosial yang lebih aman.
Kegiatan bertajuk “KITA SEMUA PUNYA ANDIL KEMBALIKAN RUANG AMAN; BAKU JAGA BUKANG BAKU KASE JAHA” ini menghadirkan para narasumber yang selama ini aktif dalam isu perlindungan dan kesetaraan, yaitu:
- Nurhasanah — Swara Parangpuan Sulut
- Nur Alfiyani, M.Si — Ketua LP2M IAIN Manado
- Sri Rahmilah Ukoli — Jaringan Swara Nusantara
- Nurila Lasene — Koordinator Gusdurian Manado
- (Fasilitator: Darham Thalib — Gusdurian Manado)
Acara berlangsung di Gedung LP2M IAIN Manado, yang sekaligus menjadi tuan rumah kegiatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas ruang dialog, memperkuat literasi publik terkait kekerasan, serta mendorong aksi nyata dalam menciptakan ruang aman bagi semua.

Melalui forum ini, seluruh penyelenggara mengajak masyarakat untuk terus membangun budaya baku jaga—saling melindungi dan menguatkan—serta meninggalkan budaya baku kase jaha yang merugikan dan melanggengkan kekerasan. Ruang aman bukan sekadar wacana, tetapi komitmen bersama yang harus diwujudkan melalui dialog, keberanian, dan aksi kolektif yang berkelanjutan.
