(19/07) “Bersedia menanggung beban” sepenggal makna Toleransi yang di ungkapkan narasumber Pak Ihsan Ali-Fauzi, saat diskusi #visitingresearcherseries3 dengan tema “Membincang Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di era Jokowi.” Kegaiatan ini terlaksana atas kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dan Pusat Studi Masyarakat Muslim di Minahasa (PS3M). Diskusi berlangsung menarik dengan peserta yang hadir dari kalangan dosen, mahasiswa IAIN Manado serta beberapa perwakilan LSM Sulut. Narasumber diskusi membagi materi yang disampaikannya kedalam 5 bagian yaitu ; Pendahuluan, KBB: Agama dan Keyakinan, Era Jokowi, Educated Guess, serta saran-saran.

Menurut narasumber “konflik Antar-agama, sesudah konflik komunal selesai (2004), tantangan kekinian adalah konflik seperti pendirian rumah ibadah.” lanjutnya, “untuk itu peran semacam Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB), Badan Kerja Sama Antar Umat Agama (BKSAUA) dibutuhkan dalam mengatasi hal tersebut.

Selain itu, Negara hari ini berdasar pada putusan MK, telah mengakui adanya aliran kepercayaan sebagai Agama dan/atau keyakinan di Indonesia, namun disisi lain ada beberapa permasalahan yang seharusnya “Negara hadir” seperti janji-janji Nawacita itu tidak sepenuhnya hadir.

Secara politis, Jokowi diharap bisa memenuhi ekspektasi Kebebasan Beragama di Indonesia, apalagi figur wakil presiden merupakan tokoh Agama, KH. Ma’ruf Amin, dianggap sebagai representasi penyelesaiaan masalah-masalah yang berkaitan dengan Agama dan Keyakinan di Indonesia.

Disesi Tanya jawab, Direktur PS3M, Sulaiman Mappiase, Ph.D memberikan tanggapan dan pertanyaan terkait diskusi, misalnya berkenaan dengan teori-teori dalam Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB), dikotomi agama yang resmi dan tidak resmi, serta perihal intern-Agama.

Diskusi yang diarahkan oleh Ketua LP2M, Dr. Arhanuddin Salim, M.Pd diharapkan mampu berkelanjutan dengan menghadirkan narasumber yang sama dalam forum yang lebih besar, karena menurutnya, pemahaman terkait Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) penting untuk dimaknai sebagai solusi dari permasalahan klasik yaitu konflik umat beragama.

Foto Bersama Narasumber, Ihsan Ali-Fauzi